Modus Penipuan dari Telepon (rumah, dan Cellphone)
Banyak sekali modus penipuan pada saat ini, salah satunya menggunakan media komunikasi telepon, baik telepon rumah atau telepon seluler, sebenarnya saya telah banyak baca di milis-milis yang sering dituliskan pengalaman tentang penipuan ini, dan saya kira itu hanya intermezzo saja, tetapi hal itu terjadi dan menimpa pada keluarga besar istri.
Runtutan kejadian seperti ini, pada hari itu Jum’at 31 oktober tepatnya pukul 14.15 ada telepon berdering di rumah istri, kebetulan waktu itu istri sedang dirumahnya (rumah mertua saya) dibilangan pasir impun, telepon berdering dan diangkat oleh ibu mertua, seketika langsung syok karena mendapat kabar Telah terjadi kecelakaan menimpa mertua saya, dan tentunya penelepon tersebut mengetahui identitas lengkap bapak mertua, kemudian telepon ditangani oleh istri, saya pada pukul tersebut baru beranjak pulang akan jemput istri dari KMRG menuju taman melati. Sepanjang jalan telepon seluluer terus berdering dan tidak saya angkat, sesampai di taman melati, suasana begitu kacau nya, istri menerima telepon dengan muka pucat dan panik, ibu mertua yang sudah lunglai lalu berkata “bapak kecelakaan bertabrakan dengan truk tangki pertamina, geger otak dan pendarahan.” sontak saya kaget.
Ketika saya datang istri sedang menerima dari seseorang yang bernama Suster Maria dan dr. Adrian dari RS. Boromeous Bandung, dr adrian ini yang konon menangani bapak mertua. Karena kekurangan alat maka dr. adrian ini mengatakan membutuhkan alat untuk mencegah geger otak dan pencegah amputasi yang katanya alatnya ada di Apotik Indofarma Jakarta dan harus segera di kirim ke Bandung, pada saat menelepon dr. adrian menggertak bahwa bapak dalam waktu 15 menit harus di operasi. sebenarnya istri sudah agak bingung harus segera operasi dalam waktu 15 menit tapi alat ada di Jakarta yang pada kondisi riil nya Bandung Jakarta ditempuh dalam waktu 3 jam oleh kendaraan. tapi karena suasana waktu itu sedang panik istri hanya mengiyakan saja kemauan dokter adrian ini. Dan dr. adrian ini menjelaskan bahwa harga alat tersebut sebesar 17 juta rupiah, dan pihak boromeus sudah menyiapkan faktur pembeliannya. agak sedikit aneh memang, yang nama rumah sakit sebesar Boromeous koq tidak memiliki alat, kalau memang tidak sanggup seharusnya dirujuk ke Rumah Sakit Lainnya ada RSHS (hasan sadikin-red). Tetapi istri terus saja mengiyakan, dan dr. Adrian menginstruksikan istri untuk menelepon seseorang di Indofarma Jakarta. dan ketika saya lihat saling lempar telepon dan semuanya itu nomor-nomor telepon seluler bukan nomer telepon kantor.
Ketika berbincang dengan seseorang dari Indofarma Jakarta ini istri harus mengirimkan sejumlah uang untuk pembayaran dimuka atau sebagai jaminan, apabila setelah transfer maka barang akan segera dikirim ke Bandung. Dan kebetulan saat itu hanya ada Ibu mertua, Istri, Pembantu, dan tetangga yang menenangkan ibu mertua, tentunya istri tidak dapat menuju atm terdekat untuk mentransfer, tetapi orang tersebut bersikukuh untuk segera mentransfer, nah pada saat itu telepon saya ambil alih dan saya katakan akan telepon terlebih dahulu kebagian UGD RS. Boromeous untuk konfirmasi apakah betul ada pasien kecelakaan atas nama bapak “K”, tetapi orang itu bersikukuh untuk mentransfer. Dengan nada tinggi saya katakan “NANTI SAYA HUBUNGI KEMBALI BAPAK SILAHKAN TINGGALKAN NOMER YANG DAPAT DIHUBUNGI !!!!!!”, lalu orang tersebut menurut dan menyebutkan nomer HP yang dapat dihubungi dan langsung saya tutup telepon rumah.
Bergegas saya telepon 108 untuk menanyakan nomor telepon RS. Boromeous, setelah mendapatkan nomor tersebut langsung saya telepon dan minta dirujuk ke bagian UGD setelah tersambung dengen UGD boromeous saya tanyakan “mba mau tanya ada pasien bpk. ‘K’ dari taman melati, pasien kecelakaaan”, orang dibalik telepon sana menanyakan kepada rekannya yang lain dan mencari data dan lalu menjawab “tidak ada pasien kecelakaan masuk hari ini, dan tidak ada psien atas nama bpk. ‘K’” lalu saya ucapkan terima kasih.
Keadaan rumah langsung tenang setelah mendapat konfirmasi tersebut, beberapa saat kemudian Suster maria menelepon lagi kerumah dan saya instruksikan istri untuk langsung caci maki itu orang ahahahaha puas juga caci maki orang.
Sedangkan ketika Bpk. Mertua datang beliau langsung ketawa-ketawa, lalu menceritakan apa yang terjadi pada dirinya, katanya ada seseorang yang menelepon atas nama KANITNARKOBA POLWILTABES BANDUNG, yang menjelaskan bahwa nomer yang bapak gunakan sedang digunakan oleh jaringan narkoba, dan harus mematikannya dalam jangka waktu 1 jam kedepan, untuk proses penangkapan sindikat narkoba. tetapi bpk mertua tidak mematikan HP nya, dan belau menelepon ke POLDA JABAR untuk konfirmasi oknum yang menelepon ini, dan ternyata tidak ada atas nama tersebut. Beliau merasa curiga, pada saat itu nomor telepon yang digunakan oknum tersebut terus menelepon tapi tidak sampai tersambung kemudian dimatikan (istilah gaulnya miskol) hampir 1 jam miskol itu berlangsung menurut bpk mertua.
Jadi intisari dari cerita itu adalah kita jangan langsung percaya kepada orang yang mengabarkan kecelakaan atau apapun yang ujung-ujungnya meminta sejumlah uang sebagai tanda jadi, apabila memang itu benar kecelakaan biasanya ada kabar dan pihak keluarga diminta untuk langsung datang ke RS yang bersangkutan tanpa ada penjelasan medis kondisi pasien. Atau tidak kita dapat cek dengan menelepon RS bersangkutan benar tidaknya ada seorang pasien yang masuk.
Semoga orang-orang penipu itu mendapatkan hidayah untuk sadar dan kembali kejalan yang benar, dan konon katanya polisi berhasil menangkap salah seorang yang mengaku KANITNARKOBA POLWILTABES BANDUNG di salah satu daerah “KRCN” dan semoga semua dapat tertangkap dan semua kasus yang telah terjadi dapat dituntaskan, terima kasih POLISI